Nama yang Ditakdirkan

1b3cca36afc81ee952e0601645b1a930
Source: Pinterest

“Allah telah menulis (di Lauhul Mahfudz) segenap takdir makhluk 50.000 tahun sebelum Ia menciptakan langit dan bumi”(HR. Muslim)

Rezeki….

Sesuatu yang niscaya dimiliki oleh setiap jiwa. Telah Allah jamin dengan janji-Nya bahkan lima puluh ribu tahun sebelum langit diperkenalkan pada lautan. Mungkin, sekarang kita tidak tahu dimana rezeki kita berada. Kita terus sibuk mencarinya. Tapi rezeki kita tahu dimana kita berada. Allah lah yang akan menuntunnya untuk datang kepada kita. Dijemput maupun tidak. Diusahakan maupun tidak. Ditempuh dengan jalan halal atau haram. Kadar dan jumlahnya akan tetap sama. Perbedaannya mungkin  hanya selama proses menjemput dan meraihnya, pahala atau dosa yang kita kumpulkan. Jika mengusahakannya dengan ketaatan maka keberkahan dan pahala yang akan diraih. Jika menjemputnya dengan kemaksiatan maka dosa dan kemurkaan (Allah) yang didapat pada ujungnya.

Pun jodoh…

Serupa dengan konsep rezeki dalam segala hal. Allah telah mengadakan keterikatan atas ruh-ruh setiap jiwa dengan pasangannya. Dimanapun ia berada, maka sejatinya ia akan selalu berjalan saling dan semakin mendekat. Dijemput maupun tidak. Diusahakan maupun tidak. Ditempuh dengan jalan halal atau haram. Fisik, nama dan bentuk yang didapatkan akan tetap sama. Bedanya, saat kita mengusahakannya dengan ketaatan, maka yang kita dapatkan adalah pasangan jiwa yang taat. Saat kita menjemputnya dengan kemaksiatan, maka jiwa yang serupa lah yang kita dapatkan. Sesuai sabda yang tertulis dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

“Ruh-ruh itu seperti tentara yang berhimpun yang saling berhadapan. Apabila mereka saling mengenal (sifatnya, kecenderungannya dan sama-sama sifatnya) maka akan saling bersatu, dan apabila saling berbeda maka akan tercerai-berai.”

Kesesuaian di alam ruh akan mengakibatkan adanya keserasian serta kesamaan. Jika ruh selalu dipenuhi dengan maksiat, maka ia akan cenderung cocok dengan sesamanya. Pun, jika ruh atau jiwa selalu disibukkan dengan ketaatan, maka ia akan serasi dengan sesamanya. Maka benarlah firman Allah yang mengatakan,

“Wanita-wanita yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji pula. Wanita yang baik-baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik pula….” (QS. an-Nur: 26)

****

Setelah perjalanan kurang lebih 6 jam dari Aceh menuju Jakarta, akhirnya Aruna dan Kirana sampai juga di Bandara Soekarno-Hatta. Mereka berdua adalah kakak beradik yang sedang menapaki bangku kuliah di institusi yang sama di Kota Kembang. Memiliki saudari kandung yang hanya jeda satu tahun itu rasanya seperti memiliki saudari kembar saja. Sekolah dari TK sampai kuliah pun selalu di satu instansi. Kamar asrama selalu bersama. Ya, apapun seperti tidak bisa dipisahkan. Hanya jurusan saja yang membedakan mereka.

Siang itu, tepat pukul 13.00 WIB di suasana hiruk pikuk bandara kota metropolitan, setelah melaksanakan shalat dzuhur setibanya pesawat di bandara tepat satu jam yang lalu, tetiba rasa lapar melilit perut keduanya. Sembari mengunggu keberangkatan travel ke Bandung, Aruna dan Kirana menyempatkan makan siang mereka di bandara.

“Kak Runa, kabarin ayah dong kalau kita udah nyampe di Jakarta dan lagi makan siang. Hp Rana di tas, males ambil,” kata Kirana sambil nyengir.

“Ohh oke,” jawab Aruna sembari mengambil handphone di saku gamisnya. Saat menyambar handphone, dia melihat ada pesan via Whatsapp dari seorang teteh yang ada di Bandung, Teh Nita. Aruna terkejut akan isinya.

“Aruna, ada yang tanyain Aruna lagi ta’aruf gak sekarang? Katanya ada seorang ikhwan yang menyampaikan ke suami Teteh, beliau ingin ta’aruf dengan ‘Aruna’, beliau alumni satu almamater perguruan tinggi juga dengan Aruna,” isi pesan itu lamat-lamat Aruna baca, hampir tiga kali berulang. Hanya sekedar memastikan untuk meyakinkan diri. Tersadar, Aruna segera menelpon ayahnya dan mengabarkan bahwa mereka berdua sudah sampai Jakarta dan akan bergegas menaiki travel menuju Bandung.

Diperjalanan itu, Aruna berpikir untuk segera membalas pesan dari Teh Nita. Tapi perasaan kalut dan deg-degan menari bercampur di pikirannya. Mengapa hal seperti ini datang sangat tiba-tiba sekali? Mana mungkin ayah ijinin Runa, masih semester lima pula, pikirnya. Setelah bermenit-menit berpikir, akhirnya Aruna mengetik balasan pesan itu, “Maaf teh, nanti ya, Aruna tanyain ayah dulu, karena ini juga masih di jalan dari Jakarta ke Bandung”.

****

Aruna termasuk anak yang hampir segala hal dalam kesehariannya harus diketahui orang tua. Ayah dan bunda baginya bukan sekedar orangtua yang harus ia hormati dan patuhi, namun mereka adalah sahabat paling tulus yang pernah ada. Maka Aruna meminta tanggapan ayahnya mengenai tawaran itu setiba ia di asrama. Setelah meletakkan semua tas dan barang yang dibawa, Aruna segera menelpon ayahnya. Dengan ringannya ayah menjawab, “Ya gak apa-apa, coba kenalan saja dulu”.

Di kepala Aruna berseliweran pikiran, “Mengapa jawaban ayah seperti itu?”; “Nanti kalau tetiba ternyata cocok bagaimana?”; “Hmm apa ini artinya boleh ya?”; “Apa aku sudah pantas?”; “Apa bisa ya kuliah tapi udah nikah?”; “Apa keluarga besar nanti akan setuju?” dan serentetan pertanyaan lain yang bergantian memenuhi fokus berpikirnya saat itu. Saat pikiran sedang kalut kala itu, Aruna memutuskan untuk melakukan istikharah. Meminta petunjuk pada Allah tentang apa hal terbaik setelah ini yang harus dia lakukan. Meminta kepada Sang Esa, jika memang ikhwan itu adalah orang yang terbaik untuk urusan dunia dan akhiratnya, maka dekatkanlah ia dan mudahkanlah jalannya. Akan tetapi, jika ia bukan ikhwan yang terbaik untuk urusan dunia dan akhiratnya, maka jauhkanlah, dan meminta agar Allah memberinya keridhoan atas apa yang telah dan akan Allah tetapkan untuk dirinya.

Tepat seminggu setelah itu, setelah mencoba berpikir dan mempertimbangkan, Aruna menyatakan kesanggupannya untuk melakukan proses ta’aruf dengan saling bertukar CV melalui Teh Nita dan suaminya. Dari CV tersebut lah, Aruna mengetahui nama ikhwan itu. Satya Mahesa, seorang alumnus satu almamater perguruan tinggi namun tidak pernah sekalipun sengaja atau tidak sengaja bertemu, yang selisih sekitar 4 tahun dengannya. Berasal dari pulau yang sama, Aruna dari ujung barat sementara Satya dari ujung timur.

Selama proses itu berlangsung, semua bentuk komunikasi yang terjadi hanya dilakukan lewat Teh Nita dan suami. Aruna adalah seorang gadis bercadar yang sangat menjaga muru’ah. Tak berani ia berkomunikasi dengan seorang ikhwan apalagi yang belum dikenalnya sama sekali. Bahkan di kampus, ia hanya aktif di organisasi yang  semua pengurus divisinya adalah perempuan. Pun organisasi di luar kampus yang ia ikuti adalah organisasi dengan basic keagamaan yang semua pengurusnya adalah perempuan. Oleh karena itu, jarang ada mahasiswa laki-laki yang mengenalnya kecuali teman se-jurusan, itupun hanya yang seangkatan. Pun Satya. Ia adalah seorang ikhwan yang sangat menjaga dan menghargai seorang akhwat. Semua akun sosial media milik Aruna ia blokir. Hal ini bertujuan untuk menutup semua pintu khalwat dan zina yang mungkin setiap saat bisa menghampiri keduanya. Sehingga memungkinkan semua bentuk komunikasi hanya melalui mediator.

Selang sekitar sepuluh hari, Satya meminta nomor ayah Aruna. Melalui Teh Nita, pesan itu disampaikan kepada Aruna. Dan Aruna pun memberikannya, tentu setelah meminta ijin kepada ayahnya. Satya dan ayah Aruna sering berkomunikasi setelahnya, dan kadang tanpa sepengetahuan Aruna.

Sembari terus melakukan istikharah, memohon yang terbaik kepada Allah, itulah yang bisa Aruna lakukan. Sebagai anak pertama dalam keluarga, sedari awal Aruna menyadari bahwa di waktu-waktu ini dia sendiri dan kondisi keluarganya seperti belum siap menerima satu anggota baru. Mau tidak mau, ia harus berpikir logis. Keluarga Aruna sedang dilanda ujian ekonomi saat itu, sementara dirinya merasa belum cukup siap untuk melanjutkan hidup berumah tangga disamping menjalani kuliah. Dan beberapa hal lain yang akhirnya membuat Aruna berpikir dua tiga kali apakah ia akan melanjutkan proses itu atau berhenti saja. Ia hanya bisa bertawakkal kepada Allah.

Waktu demi waktu terus berjalan. Dua minggu berlalu. Karena dirasa tidak ada progres dan banyak kemungkinan yang membuat Aruna pada akhirnya berpikir untuk tidak melanjutkan proses itu,  Aruna memutuskan untuk tidak ingin mencari tahu tentang seperti apakah sosok Satya. Sembari terus melakukan istikharah, semoga ini adalah keputusan yang terbaik.

****

Pagi itu hari minggu, dengan pertemuan yang tidak direncanakan, Aruna betemu dengan Nala, seorang kakak tingkat yang memiliki kedekatan cukup intens dengannya sehingga ia merasa nyaman berbagi segala hal dengan Nala. Nala bercerita pada Aruna bahwa beberapa waktu lalu ada seorang ikhwan yang menghubunginya lewat inbox facebook, meminta Nala untuk menjadi mediator kepada seorang akhwat.

“Aku kaget dong Runa, namanya aja aku baru tahu. Masak tetiba dia meminta aku untuk menjadi mediatornya?”cerita Nala.

“Kalau boleh tahu, namanya siapa Teh?” sela Aruna.

“Satya Mahesa, alumni kampus kita juga,” jawab Nala.

DEGH. Kebetulan? Tidak. Allah sudah mengatur banyak kebetulan semacam ini. Akhirnya Aruna bercerita kronologis bagaimana dia dan Satya sedang menjalani proses taaruf saat ini kepada Nala.

“Hoho, mungkin waktu itu ikhwan tersebut sedikit bingung menghubungi siapa kali yaa untuk dimintai menjadi mediatornya. Tapi wait, anyway kamu udah mantap tentang sebuah pernikahan dan rumah tangga yang akan kamu jalani, Runa?” tanya Nala.

“Sampai saat ini Runa pun masih terus istikharah Teh, meminta petunjuk dan kemantapan hati kepada Allah. Runa pun sebenarnya merasa sangat minim usaha untuk mencari tahu tentang ikhwan ini. Mengenai kesiapan, ya Teteh tahu bagaimana keadaan keluarga Runa sekarang seperti apa. Meski nanti Runa berkata iya, tapi jika keluarga tidak mengijinkan, ya Runa tidak akan melanjutkan prosesnya. Kalau dilihat secara personal dari ikhwan ini, sebenarnya tidak ada alasan atau udzur Runa buat menolaknya. Ahh entahlah Teh, kita tunggu saja keputusan dari Allah. Kalau memang dia adalah jodoh Aruna, meski banyak hambatan, in syaa Allah nanti akan Allah mudahkan,” tutur Aruna kepada Nala yang mendengarnya dengan seksama.

“Ahh, iya benar. Biarkan Allah menjadi penentu. Kita gantungkan saja hati dan pilihan kita pada-Nya. Allah selalu tahu mana yang terbaik buat hamba-Nya,” sambung Nala.

****

Dua bulan lebih setelahnya, tetiba Aruna mendapat kabar dari Aceh bahwa Satya datang dari Bandung sengaja ke Aceh untuk menemui orang tua Aruna. Aruna terkejut mendengar kabar itu. Ayah mengabarkan bahwa sudah dua hari Satya menginap di rumah mereka dan rencana lusa akan kembali ke Bandung. Berarti selama ini kadang tanpa sepengetahuanku, mereka saling berkomunikasi, pikir Aruna.

Tiga hari menginap di rumah Aruna, Satya berkenalan dengan semua orang di rumah bahkan dengan keluarga besar Aruna. Mencari tahu segala hal tentang Aruna langsung dari keluarga. Sekembalinya Satya ke Bandung, ayah menelpon Aruna. Ayah mengatakan bahwa ayah dan bunda telah memutuskan untuk menerima lamaran Satya. Masih belum selesai keterkejutan Aruna, ia mendengar penjelasan ayahnya bahwa keluarga telah memutuskan untuk mengijinkan Aruna menikah dengan Satya ketika liburan semester 6 nanti. Pasalnya ayah tidak meminta pertimbangan Aruna dalam memutuskan perkara ini. Bahkan Aruna belum mengetahui banyak hal tentang Satya, bertemu dan mengobrol sekalipun belum pernah.

“Mengapa Ayah tidak membicarakan hal ini dengan Aruna terlebih dulu? Bahkan Aruna belum tahu akhlaknya baik atau tidak, Yah. Apa alasan Ayah langsung menerima Bang Satya?” tanya Aruna via telepon yang sebenarnya sedang bercampur emosi namun ia berusaha untuk menahannya.

“Dia anak yang baik. Akhlaknya bagus. Sholatnya rajin ke masjid. Bahkan akhlaknya lebih baik dari Runa. Bapak-bapak di masjid waktu Ayah mintai pendapat, semua bilang setuju. Kawan Ayah juga bilang Satya kelihatan anak yang baik,” terang ayah dengan nada santainya.

Lima hari setelah kejadian itu, sore hari di asrama, Aruna tetiba mendapat telepon dari nomor tak dikenal. Setelah mencoba diangkat, ternyata sang penelpon adalah ibu Satya. Sengaja karena ibu Satya ingin mengenal Aruna lebih jauh, jadi beliau menelpon Aruna menanyakan bagaimana pendapat Aruna sebenarnya tentang Satya. Tentang fisik, karakter dan segala halnya apakah memang Aruna dan Satya telah saling cocok.

“Bu, jujur sebenarnya Aruna belum pernah sekalipun bertemu dengan Bang Satya,” kata Aruna dengan nada semakin merendah.

“Lhoh, jadi selama ini belum ketemu? Kalau saran ibu, mending kalian coba ketemu saja dulu. Coba ngobrol. Takut kalau gak ketemu nanti ternyata ada yang tidak cocok,” pinta ibu Satya kepada Aruna via telepon.

Dari sanalah Aruna memutuskan untuk ingin menemui Satya pada akhirnya. Di sebuah restoran yang cukup ramai, Aruna dibarengi teman kuliahnya bernama Ratri – yang tentu saja juga gadis bercadar – untuk menemui Satya. Dari pertemuan itu, Aruna menanyakan beberapa hal tentang Satya, mengcross-check beberapa hal sebagaimana data yang ada di CV yang ia terima. Dan menanyakan tentang sedikit pola pikir Satya tentang perencanaan pasca nikah seperti ijin istri untuk bekerja dan lain-lain. Dalam komunikasi itu, Satya terkesan pasif, hanya menjawab pertanyaan yang dilontarkan Aruna tanpa sedikitpun bertanya balik kepada Aruna. Ketika Aruna bertanya mengapa Satya tidak ingin bertanya kepada Aruna.

Satya hanya menjawab, “Semua data yang saya dapatkan tentang Aruna saya kira sudah lebih dari cukup. Data akademis, data dari orang tua, dan data dari beberapa kolega. Jadi menurut saya tidak perlu ada yang ingin saya tanyakan lagi.”

Aruna hanya terdiam dan termangu mendengar penjelasan itu. Bahkan Satya sudah tahu semua kekurangan dan seluk beluk Aruna dari orang tua dan keluarga besar Aruna.

****

Setelah pertemuan itu, Satya menyampaikan jika Aruna tidak menerima lamarannya pun sebenarnya tidak mengapa. Karena Satya sangat paham bahwa ketika seorang laki-laki telah siap meminang seorang gadis, maka di sisi lain dia juga harus mempersiapkan dirinya kalau-kalau mungkin saja pinangannya ditolak. Serupa perumpamaannya, ketika seorang perempuan telah siap menerima tawaran akbar seorang laki-laki yang bersedia meminangnya, di sisi lain perempuan itu juga harus mempersiapkan dirinya kalau-kalau esok paginya bisa saja dia dicerai, dipoligami bahkan ditinggal pergi oleh laki-laki itu. Sebab, pilihan itu selalu ada baik untuk laki-laki dan perempuan, Allah dan Rasul-Nya telah membaginya secara adil, bahwa hak istimewa dari seorang perempuan adalah dia berhak menerima dan menolak laki-laki mana yang akan mendampingi hidupnya.

Dan tepat tiga hari berselang akhirnya Aruna memutuskan dan menyatakan untuk menerima lamaran Satya. Tepat lima bulan berhitung dari hari dimana Teh Nita menawari Aruna tentang tawaran ta’aruf. Ketika memutuskan iya, maka Aruna dan Satya bersepakat untuk tidak berlama-lama dengan proses semacam ini. Karena jika sengaja me-lamakan waktu tanpa ada udzur yang jelas, ditakutkan akan muncul banyak potensi fitnah yang hadir. Aruna dan Satya bersepakat ingin menghalalkan proses mereka secepatnya, yaitu pada saat liburan semester 5 ini, di bulan Desember tepatnya. Akan tetapi setelah dibicarakan lebih jauh dengan pihak keluarga Aruna, ayah dan bunda bersikukuh agar pernikahan dilakukan saat liburan semester 6 saja. Dan setelah itu diputuskanlah pada tanggal berapa pernikahan akan diselenggarakan.

Menunggu sekitar enam bulan seperti bukan waktu yang sebentar. Menunggu itu waktu yang panjang. Tanpa komunikasi melalui media apapun dan tanpa pernah sengaja bertemu. Mereka selalu mengkomunikasikan apapun melalui perantara, entah itu melalui orang tua, adik maupun Teh Nita. Mereka sangat berusaha menjaga untuk tidak mengotori setiap proses itu dengan sesuatu yang Allah larang, karena mereka percaya ketika mereka senantiasa mengingat Allah dalam berbagai keadaan baik saat senang maupun sedih, lapang maupun susah. Maka in syaa Allah, Allah pun akan mengingat mereka kapanpun.

****

Menikah itu bukan sekedar antara ‘aku’ dan ‘kamu’, namun menikah adalah komitmen awal untuk membangun sebuah peradaban. Menikah adalah ladang dakwah, ladang mencari ridha Allah dan Rasul-Nya, ladang untuk saling tolong menolong dalam ketaatan kepada Rabb semesta alam. Menikah berarti bercita-cita menciptakan generasi penerus, generasi yang diharapkan jauh lebih baik hingga dapat memperbaiki peradaban manusia pada umumnya. Menikah itu membantu menundukkan pandangan, membantu melalui jalan yang telah Allah halalkan dan menutup celah jalan yang Allah haramkan bagi dua insan yang saling dilanda cinta.

“Sesungguhnya obat bagi orang yang saling mencintai adalah dengan menyatunya dua insan tersebut dalam jenjang pernikahan.” (Ibnul Qayyim Al-Jawziyyah dalam Raudhatul Muhibbin)

Ada begitu banyak cara bagi Allah untuk mempertemukan dua hati. Sungguh, ia tak terbatas pada sebuah perjumpaan, percakapan maupun interaksi secara langsung. Sangat mudah bagi Allah untuk menyatukan hati kedua insan yang belum pernah bersua sekalipun. Menyaksikan kisah mereka, setidaknya menyadarkan kita bahwa Allah lah Maha Pengatur segala hal yang ada di langit dan di bumi. Bahkan untuk sehelai daun yang jatuh dari dahan, Allah tahu ke bumi mana ia akan terbawa angin dan akhirnya berlabuh. Takdir. Ya, satu  kata yang cukup kita imani dalam hati dengan penuh keyakinan. Dan ikhtiar hanyalah bentuk laku perbuatan yang harus kita barengi dengan ketaatan.

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”
(QS. Al An’am:59).

 

 

Cerita non fiksi dengan nama tokoh disamarkan.
Ditulis oleh: Desi Wulandhari

 

 

 

Kembali Pulang….

14711958b620c7d8221b2ce420e9d156
Souce: Pinterest
Beberapa hari ini, hati terasa didera rindu ingin pulang ke rumah karena qadarullaah kurang lebih satu tahun belum pulang ke kampung halaman. #H-23
Maka, apakah kerinduan hati pada ke’pulang’an kita ke surga juga sudah memenuhi hatimu, wahai diri?
Iya, pulang. Pulang ke kampung abadi. Tempat yang di dalamnya “tidak ada kekhawatiran terhadap mereka” dan “tidak pula mereka bersedih hati”
Karena kematian bukanlah sesuatu yang memisahkan. Ia adalah langkah perjalanan menuju fase kehidupan yang lebih tinggi: akhirat.
Dimensi raga kita hanya-lah di dunia, sementara hakikat jiwa adalah untuk kembali kepada penciptanya.
Jadi setiap yang memiliki raga dan jiwa memang akan mengalami fase kematian.
Ada nasehat indah dari ahli ilmu bahwa,
“Tak perlu takut mati. Karena ia adalah hal niscaya bagi setiap jiwa.
Yang perlu kita takutkan adalah keadaan setelah kematian. Karena ia adalah pilihan”
Al-Ustadz Beni hafidzahullaah.
Maka semoga rasa rindu ingin pulang ini dapat menjadi pelajaran berharga, betapa ada kampung keabadian yang harus lebih kita rindukan. Yang ia bisa membuat kita semakin berlomba dalam ketaqwaan.
Ya Rabb, jadikanlah jiwa-jiwa kami yang Engkau sebut dengan ‘an-nafs al-muthmainnah’ (jiwa-jiwa yang tenang)’
“Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku” (QS. AL-Fajr: 27-30)
Kota Kembang
Ummu Kiram

Semua Bermula dari Shalat

5a84d2fd799436edd54e7f44d767cc17
Source: Pinterest

Malam ini tetiba termenung. Sedikit bertanya-tanya tentang mengapakah seseorang dapat mengalami fase futur sampai – seakan-akan –membuat diri mereka tidak mengenal dirinya saat mereka masih sangat bertaqwa dahulu?

Mengapa bisa sampai futur sedahsyat itu? Bagaimana mungkin orang yang kita tahu begitu lurus tetiba melenceng begitu jauh? Mengapa mereka bisa sampai terjatuh begitu dalam dan enggan berusaha bangkit?

Menyedihkan rasanya. Saya memohon kepada Allah agar kita semua tetap dikuatkan untuk menjalani ketaqwaan hingga akhir hela. Tentu menyedihkan, saat kita tahu banyak orang diluar sana yang berusaha sekuat tenaganya, berjuang hingga titik darah penghabisan untuk mempertahankan ketaqwaan, berjalan menuju Allah walau dengan langkah terseok-seok. Tapi di sisi lain, ada yang mengalami kefuturan sampai membuatnya lupa seperti apa ‘rasa manis’ ketaqwaan yang ia rasakan dulu, seperti apa tentramnya hati saat dekat dengan Allah. Seratus delapan puluh derajat, hati itu dibuat lupa.

Kadang-kadang bentuknya bisa jadi yang dulu pakai jilbab panjang menjuntai menutup dada bahkan sampai paha, menjaga muru’ah, sangat pemalu. Namun sayup-sayup terdengar kabar bahwa sekarang jilbab semakin pendek saja, bermudah-mudahan dengan lawan jenis bahkan sampai ada yang memutuskan untuk melepas hijab. Atau mungkin seorang lelaki yang dulunya begitu shalih, tapi terjebak dalam pergaulan salah, lantas menjadikan ia jauh dari jalan kebenaran dan dengan santainya melanggar batas syariat. Na’udzubillaahi min dzaliik.

Dari perenungan ini, mungkin kita seringkali tidak menyadari bahwa penyebabnya adalah sesuatu yang amat sederhana dari sesuatu yang kita kira. Sudah sunnatullah jika iman itu pasang surut. Saat fase surut, kefuturan seringkali menjadi teman akrab. Menjerembabkan diri dalam banyak dosa dan maksiyat. Semua orang pernah mengalaminya. Entah dari yang dulunya sangat ‘alim sampai yang tak paham agama sekalipun.  Semuanya sebabnya hanya satu: mereka pasti lebih dulu melalaikan, mengesampingkan, mengabaikan bahkan meninggalkan shalatnya sebelum mereka bisa terjatuh begitu jauh.

Mengapa?

Begini, mari kita buka lembaran-lembaran Kitab Suci, pahami Surat Al-Ankabut ayat 45.

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Al Hasan berkata, ”Barangsiapa yang melaksanakan shalat, lantas shalat tersebut tidak mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, maka ia hanya akan semakin menjauh dari Allah.” (Dikeluarkan oleh Ath Thobari dengan sanad yang shahih)

Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali hafizhohullah berkata, “Siapa yang merutinkan shalat dan mengerjakannya di waktunya, maka ia akan selamat dari kesesatan.” (Bahjatun Nazhirin, 2: 232).

Abul ‘Aliyah pernah berkata, “Dalam shalat ada tiga hal di mana jika tiga hal ini tidak ada maka tidak disebut shalat. Tiga hal tersebut adalah ikhlas, rasa takut dan dzikir pada Allah. Ikhlas itulah yang memerintahkan pada yang ma’ruf (kebaikan). Rasa takut itulah yang mencegah dari kemungkaran. Sedangkan dzikir melalui Al Qur’an yang memerintah dan melarang sesuatu.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 65).

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Shalat bisa mencegah dari kemungkaran jika shalat tersebut dilakukan dalam bentuk sesempurna mungkin.

Maka jika ada yang melaksanakan shalat, namun ia terus hidup terjerumus pada dosa dan maksiyat, boleh jadi shalatnya hanyalah rutinitas anggota badan belaka.  Bukan shalat yang benar-benar dijiwai dengan kehadiran hati di dalamnya.  Dari penjelasan ini, dapat kita pahami bahwa shalat yang dilakukan dengan jiwa atau hati maka ia dapat menjadi perlindungan murni kita terhadap kesesatan. Kesesatan yang di desain secara khusus oleh syaitan untuk menjerusmuskan kita dalam dosa dan maksiyat. Dan fase kefuturan adalah waktu yang tidak akan dilewatkan oleh syaitan untuk menyesatkan kita, menjatuhkan dan melencengkan kita sejauh-jauhnya dari jalan kebenaran.

Jadi, ketika hati seseorang memutuskan untuk melalaikan, meremehkan, mengabaikan bahkan meninggalkan shalat, maka ia juga telah meninggalkan perlindungannya dari kesesatan. Perlu kita garis-bawahi bahwa proses pengabaian shalat seseorang itu tidak terjadi seketika, tapi bertahap. Awalnya mungkin sering menunda-nunda waktunya, lalu meremehkannya dengan sering menggabungkan dua waktu shalat di satu waktu padahal tidak ada udzur, sampai pada suatu titik hati dan fisiknya dapat dengan mudah meninggalkan shalat. Tau-tau meninggalkan shalat baginya adalah suatu hal yang lazim. Na’udzubillaahi min dzaalik

Padahal saat proses awal pengabaian shalat, ada perseteruan dan pertempuran hebat yang tak bisa kita ketahui: pertempuran diri dengan syaitan. Saat ada seseorang yang melalaikan shalat, saat itulah sejatinya ia sedang memasuki medan tempur dan berperang melawan syaitan dengan tanpa memakai baju perlindungan (Shalat). Jelas lah, kita tidak bisa meremehkan kemampuan syaitan yang prestasinya sudah sedemikian banyak menjerumuskan manusia kedalam siksaan yang pedih. Tapi ada yaa yang malah menantang mereka bertempur dan tanpa mengenakan perlindungan (Shalat) pula. Maka jelas saat itulah syaitan  dapat memiliki kekuasaan penuh atas diri seseorang yang mengabaikan shalatnya. Kita telah membiarkan ‘pencuri’ yang sudah bersumpah di hadapan Allah akan menjadi musuh manusia selamanya, merenggut jiwa dan tiket kita menuju surga yang abadi. (>.<)

Jadi memang bukanlah sesuatu yang mengagetkan jika mengabaikan shalat merupakan langkah awal perjalanan menuju kehidupan yang lebih rendah.

Ada pelajaran mendalam mengenai hal ini. Bahwa ketika ada seseorang yang ingin memperbaiki hidupnya, maka ia harus bermula dengan memperbaiki dan menyempurnakan shalatnya dengan menempatkan shalat di atas segala proritas.  Tanpa hal ini, seberapa pun dan sekuat apapun kita berjuang memperbaiki hidup, tak akan pernah berhasil selama kita belum menempatkan shalat diatas semua prioritas.

Shalat itu merupakan sebab datangnya rezeki, terjaganya kesehatan, tercegahnya gangguan, tertolaknya penyakit, kuatnya hati, bersinarnya wajah, bahagianya jiwa dan hilangnya kemalasan.

Jika kita ingin belajar memanage waktu dengan sebaik mungkin, maka kita harus memulainya dengan berfokus untuk menyempurnakan shalat kita.

Ketahuilah bahwa pernah ada SATU ORANG, di bumi ini yang pernah melakukan perjalanan yang tak ada orang lain yang pernah melakukan perjalanan ini: isra’ mi’raj. Ialah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Dari perjalanan menakjubkan itu, ada satu perintah. Ya, SATU-SATUnya perintah yang Allah membawa Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk menemuinya sendiri dan tidak melalui Malaikat Jibril karena saking pentingnya perintah ini: SHALAT.

Pertama kali Allah memerintahkan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan ummatnya untuk melakukan shalat 50 waktu dalam sehari. Dan atas saran Nabi Musa ‘alaihis salam, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berusaha meminta keringanan atas perintah tersebut. Setelah beberapa kali meminta keringanan, pada akhirnya perintah shalat itu hanya menjadi 5 waktu sehari dengan pahala seperti mengerjakan shalat 50 waktu. Dari sini ada faidah agung tentang belas kasih Nabi Musa ‘alaihis salam terhadap umat ini. Sekiranya terus meminta Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta keringanan kepada Allah. Sebab Nabi Musa mempunyai pengalaman bahwa umatnya tidak mampu mengerjakan shalat padahal hanya dua kali sehari, pada pagi dan petang.

Mari sedikit berpikir. Dari proses pengurangan shalat yang awalnya 50 waktu menjadi 5 waktu ini adalah sesuatu yang sudah diatur. Tujuannya adalah untuk MENGAJARI KITA bahwa sejatinya hidup kita diciptakan untuk beribadah kepada Allah (dengan shalat). Coba bayangkan jika seandainya perintah shalat tetap 50 waktu, maka kita akan menghabiskan waktu hidup kita (yang hanya sebentar ini) hanya untuk shalat, tanpa melakukan hal lain. Inilah intinya. Inti dari diciptakannya kita, manusia. Apakah ada cara yang lebih hebat untuk menggambarkan apa tujuan hidup kita sebenarnya daripada cara ini? Seolah-olah mengatakan bahwa, sejatinya hidup kita ini diciptakan untuk shalat. Dan semua kegiatan lain selain shalat itu hanyalah laku perbuatan, hanya gerakan saja.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)

Huuft, tapi dunia dan segala isinya ini telah melalaikan kita dari tujuan sebenarnya mengapa kita diciptakan. Membuat diri kita seolah-olah menjadi pikun kewajiban dan salah dalam menyusun prioritas hidup. Shalat hanyalah sebuah ritual yang (mau tidak mau) kita jejalkan ke dalam aktivitas kita sehari-hari. Padahal perkaranya justeru sebaliknya. Semua aktivitas selain shalat itulah yang harus kita jejalkan di waktu-waktu luang selain shalat.  Allahul musta’an. Hanya kepada Allah kita memohon petunjuk dan pertolongan.

Allaahu a’lam

 

Referensi:

https://rumaysho.com/3773-benarkah-shalat-dapat-mencegah-dari-perbuatan-keji-dan-mungkar.html

https://wafimarzuqi.wordpress.com/2012/12/25/kisah-isra-miraj-dan-diwajibkannya-shalat-lima-waktu/

 

Sunyi Malam Kota Kembang
Ummu Kiram

 

Tugas Peradaban Part #5 – Mendewasa Bersama

4855bdafafc3bfc42078fc390c184d0f
Source: Pinterest

Sedikit membelok dari bahasan sebelum-sebelumnya yang menyoal tentang aspek teknis. Kali ini mari sejenak menjeda kata, mencoba memahami sebuah penggalan frase “Mendewasa Bersama”.

Berbicara tentang tugas peradaban, rasanya seperti tak bisa melepaskannya dari sebuah proses yang niscaya akan dilalui di dalamnya: Mendewasa Bersama. Ya, jauh lebih baik ketimbang frase menua bersama.

Mendewasa bersama adalah sebuah frase yang akan bekerja saat dua jiwa yang memiliki kesesuaian dalam banyak hal memutuskan untuk bersama. Keputusan tersebut telah mengikat mereka dalam banyak konsekuensi. Konsekuensi itu timbul karena adanya komitmen. Komitmen saling setia dalam kesulitan dan kemudahan.

***

Sejatinya, jodoh adalah kesesuaian jiwa. Kesesuaian jiwa adalah jodoh. Allah akan senantiasa menuntun setiap jiwa untuk saling menemukan jodohnya. Diadakan oleh Allah keterikatan atas ruh-ruhnya, walau belum pernah sekalipun bertemu. Akan didekatkan hatinya oleh Allah, meski jauh jaraknya di permukaan bumi. Dan Allah telah menciptakan setiap jiwa memiliki pasangan.

“Berjodoh itu bukan berarti kita menikah terus berarti seseorang itu jodoh kita. Kalau seperti itu, lantas bagaimana dengan mereka yang harus berpisah di tengah-tengah perjalanan karena hubungannya kandas? Jodoh itu adalah dua orang yang memiliki ikatan  secara fisik, batin, visi misi, ikatan (se)hati dan yang memiliki kecocokan  secara ruh dan jiwa.”  – kata seorang teman (dari redaksi saya) –

Kosa kata ‘jodoh’ dikenal apabila ada dua jiwa yang saling memiliki kesesuaian telah saling mengisi satu sama lain. Dari sanalah kemudian ia akan mencipta rasa cinta dan kenyamanan.

Nyaman ketika jauh. Nyaman ketika dekat. Nyaman ketika susah. Nyaman ketika sama-sama terhimpit. Nyaman ketika mudah. Nyaman ketika berselisih dan membangun pendapat.

Kenyamanan tersebut-lah yang justeru mampu menentukan parameter kebahagiaan. Bagaimanapun, membangun sebuah keluarga tidak hanya akan diwarnai dengan tawa dan bahagia saja. Jalinan yang sehat justeru mampu mencipta segala rasa: ada marah, sedih, kecewa, putus asa, ingin menyerah dst. Itulah hubungan yang dewasa.

Maka ketika ada dua hati yang memutuskan untuk bersama, jangan pernah berjanji untuk tidak saling menyakiti. Berjanjilah untuk tetap saling bertahan dan mempertahankan. Konsekuensi hidup bersama akan selalu melahirkan permasalahan yang darinya kita dapat belajar menyikapi kehidupan. Mendewasalah bersama.

 

Cerah Pagi Kota Kembang
April ke dua puluh lima, 2016
Ummu Kiram

Tugas Peradaban Part #4(2) – Mengarungi Kesesuaian Jiwa

Pembahasan sebelumnya bisa dibaca disini. Pembahasan ini adalah lanjutan dari pembahasan sebelumnya, masih di judul yang sama.

734d6ce6fdedab5e8bd253aa772f3756
Source: Pinterest

5. Cross-check Data

Jangan pernah percaya dengan sesuatu yang kita dengar sebelum kita melakukan cross-check. Apalagi di zaman sekarang, orang bisa sangat mudah menipu dan memalsukan dalam penulisan CV dan latar belakang. Walaupun seseorang itu sudah mengaji dan bermanhaj salaf. Gak ada yang bisa menjamin. Zaman sekarang telah merebak oknum penipuan dalam hal mencari pasangan. Jika mediator mengatakan orang yang akan dijodohkan dengan kita itu baik, maka cross-check. Cari orang yang pernah tinggal se-atap dengan dia, kalau bisa minta testimoni langsung dari pihak keluarga yang dekat dengannya, apakah memang ia benar-benar seorang yang baik? Baiknya seperti apa? Jika mediator mengatakan dia bekerja/studi di instansi A. maka cross-check, apakah memang menjadi salah satu civitas di instansi tersebut. Jika mediator mengatakan dia tinggal di daerah B, maka cross-check, benar atau tidak. Pastikan semua data yang telah kita dapatkan itu benar adanya. Pokoknya segala sesuatunya harus terukur, jelas dan gamblang di mata kita, tidak ada yang ditutup-tutupi. Jika dirasa tidak bisa meng-cross checknya sendiri, maka kita bisa minta tolong pada orang yang benar-benar kita percayai untuk mengeceknya, seperti ayah, wali, mahram, teman dekat dll.

Jangankan untuk masalah partner hidup yaa, yang kita akan mengabdikan dan menghabiskan waktu hidup kita bersamanya. Bahkan untuk sebuah instansi yang akan memberi beasiswa kepada seorang saja, itu pengecekan dan syarat administrasinya seabrek dan memusingkan, memastikan bahwa data yang didapatkan mengenai calon penerima beasiswa tersebut benar. Ini hanya masalah beasiswa yang untuk dalam waktu 1 atau 2 tahun saja, apalagi mengenai calon partner hidup. Kita harus benar-benar memastikan data yang kita dapatkan itu valid. Korek informasi sebanyak mungkin dari link yang kita punya dan lalukan  investigasi lapangan. Jangan sampai salah informasi, karena hal ini bisa menjadikan kita salah pilih.

 

6. Dibolehkan bicara dengan calon partner.

Komunikasi antara dua pihak yang sedang melakukan proses taaruf TIDAK BOLEH secara langsung. Komunikasi mengenai apapun harus melalui mediator. Dan salah satu bentuk komunikasi yang dibolehkan adalah melakukan pembicaraan dengan calon partner. Poin ini memiliki beberapa syarat untuk bisa dilaksanakan, yaitu

  • Adanya hajat/urgensi
  • Durasinya tepat
  • Ada pihak ketiga dst (tidak berduaan di tempat sepi)

Dalam pembicaraan ini, kita bisa melakukan  fit & proper test pada calon partner kita. Dalilnya adalah riwayat Imam Ahmad dari Abdullah bin Mas’ud yang mengatakan, “Jika Anda ingin menikahi wanita mantan pelacur/pezina (lalu ia bertaubat),  maka lakukanlah tes terlebih dahulu dengan menawarinya mengajak berzina. Kalau dia menolak, berarti ia telah benar-benar bertaubat. Jika ia menerima tawaran itu, berarti dia belum bertaubat.”

Maksud riwayat ini bukan calonnya langsung yang mencoba mengetes wanita tersebut. Tapi minta tolong-lah pada teman yang belum dikenali oleh wanita tadi untuk mengajak berzina. Jika dia menolak, maka wanita itu telah bertaubat dan silakan menikah dengan wanita tersebut.

Sedikit menyambung dengan bahasan fit & proper test yaitu dari teladan lain kita ambil kisah peradaban bagaimana Ibunda Khadijah radhiyallaahu ‘anha melakukan fit & proper test pada Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu dengan menawari beliau untuk berdagang ke Syam. Ibunda Khadijah meminta tolong kepada  seorang pemuda budaknya Khadijah yang bernama Maisarah untuk mengawasi beliau selama perjalanan dagang ke Syam dan sampai balik lagi ke Mekkah. Khadijah ingin meng cross-check sifat amanah dari Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Padahal di zaman itu, seantero Mekkah tidak ada orang yang meragukan sifat ke-amanah-an beliau, tapi ternyata untuk benar-benar membuktikan sifat amanah tersebut, Khadijah tidak langsung percaya dengan berita yang ia dengar dan ia melakukan fit & proper test. Dari tes ini selain kemampuan yang dinilai, juga aspek kejujuran yang kita nilai. Dia mengatakan bahwa dia hafidz, hapal shahih bukhari, maka tes. Jika dia benar-benar jujur, maka hal ini akan mudah saja dilalui.

Cara selanjutnya, ketika melakukan pembicaraan dengan calon maka bertanyalah tentang hal-hal mengenai pola pikir,  prinsip, kecerdasan, dan pandangannya yang bisa menjadi bahan penilaian kita terhadap calon tersebut mengenai kedewasaan dan kematangan berpikirnya seperti apa.  Misal seperti menanyakan beberapa pertanyaan berikut

  1. Apa arti sebuah komitmen menurut Anda?
  2. Jika suatu saat Anda sudah merasa mulai bosan dengan pasangan hidup Anda, apa yang akan Anda lakukan?
  3. Bagaimana prinsip Anda tentang anak?
  4. Bagaimana perencanaan untuk pendidikan Anak-anak Anda kelak?
  5. Apakah nanti Anda akan memberi ijin jika istri Anda ingin bekerja?
  6. Bagaimana jika suatu ketika ada rekan kerja wanita Anda yang terus menghubungi Anda dengan tidak baik, sementara Anda telah memiliki istri? Apa yang akan Anda lakukan?
  7. Menurut Anda, konsep keluarga sakinah mawaddah wa rahmah itu seperti apa? Dll

Atau masih banyak pertanyaan lain jika kita ingin menggali sesuatu dari si calon mengenai konsep berkeluarga menurutnya.  Jadi pastikan pertanyaan yang kita ajukan itu berkualitas dan bisa dijadikan penilaian mengenai sifat dan kedewasaan si calon. Jangan hanya bertanya, makanan kesukaan apa, hobi apa, dst. Itu mah bisa digali nanti jika sudah menikah. Sebelum menikah maka bertanyalah hal-hal yang lebih urgen, mengenai hal yang prinsipil dan fundamental dalam berkeluarga.

Pembicaraan ini sejatinya bukan untuk menilai bagaimana hakikat dia sebenarnya pada realita. Karena pasalnya banyak orang yang pandai bertutur akan tetapi pada realitanya ternyata non-sense. Pembicaraan ini hanya bertujuan untuk mengetahui apakah dia ‘nyambung’ kalau berbicara dengan kita. Apakah hadir chemistry saat pembicaraan itu.

7. Nadzor (melihat)

Banyak yang salah kaprah dalam memahami konsep nadzor ini, walau pelakunya sudah lama mengaji salaf. Nadzor itu TIDAK BOLEH dilakukan di fase awal ingin taaruf. Nadzor ini hanya boleh dilakukan di 2 waktu  yaitu setelah lamaran dan sebelum lamaran. Jika nadzor sebelum lamaran ini hanya boleh dilakukan saat kita sudah memiliki feeling yang sangat kuat untuk menikah dengannya. Feeling tersebut diperkuat dengan dasar telah dilakukannya step by step di atas, termasuk data-data yang kita dapatkan valid, dan kita sudah melakukan isthikhoroh berulang kali. Dan dengan izin Allah, Allah memberi kita kemantapan hati kita terhadap si calon partner. Jadi hasil feeling-nya benar-benar ilmiah.

As-Syaikh Amr bin Abdul Mun’im Salim dalam bukunya Adabul Khitbah wa Az-Zifaf min Al-Kitab wa Shahih As-Sunnah menjelaskan tentang aturan nadzor wanita yang dilamar. Selanjutnya beliau menegaskan dua syarat bolehnya nadzor. Bahwa bolehnya nadzor ini dengan dua syarat:

  1. Pertama, pihak laki-laki harus benar-benar memiliki niat untuk menikahinya.

Berdasarkan hadis dari sahabat Abu Humaid Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

 “Apabila kalian melamar seorang wanita, tidak ada dosa baginya untuk me-nadzor-nya, jika tujuan dia melihatnya hanya untuk dipinang. Meskipun wanita itu tidak tahu.”(HR. Ahmad 23603, At-Thabrani dalam Al-Ausath 911. Hadis ini dinilai shahih oleh Al-Albani, sebagaimana keterangan beliau dalam Silsilah As-Shahihah, no. 97)

  1. Kedua, ada peluang untuk menikahinya

Seperti, memungkinkan untuk diizinkan walinya, atau memungkinkkan untuk diterima pihak wanita. Jika kemungkinan besar pasti ditolak, baik oleh pihak wali atau wanita yang dinadzar maka tidak boleh tetap nekad untuk nadzor.

Ibnul Qatthan Al-Fasi dalam Ahkam An-Nadzar mengatakan:

Jika lelaki yang hendak meminang wanita mengetahui bahwa pihak wanita tidak akan bersedia nikah dengannya, atau  pihak wali tidak akan mengabulkan pinanganya, maka tidak boleh dia melakukan nadzor. Meskipun dia sudah menyampaikan lamarannya. Karena dibolehkannya nadzor, hanya karena menjadi sebab untuk menikah. Jika dia yakin bahwa dia pasti ditolak, maka kembali pada hukum asal melihat wanita, yaitu dilarang. (An-Nadzar fi Ahkam An-Nadzar, hal. 391)

Mengenai hal yang boleh dilihat, disini ulama berbeda pendapat. Namun pendapat yang ma’ruf adalah dibolehkan melihat muka dan telapak tangan. Ada juga pendapat yang membolehkan melihat apa yang biasa nampak ketika wanita di depan mahrom. Tapi sekali lagi, nadzor ini hanya boleh dilakukan ketika kemantapan hati kita minimal 80% akan menikahinya dan feeling ilmiah tadi telah kita dapatkan.

 

8. Istikhoroh

Ini adalah poin yang sangat penting menyoal tentang mencari partner hidup. Poin inilah yang membedakan taaruf dengan pacaran. Jika ditelisik dari pembahasan sejauh ini, taaruf  bukanlah hal mudah yang bisa kita lakukan kapan-pun yang kita mau. Banyak sekali PR dan pekerjaan kita disana. Akan sangat menguras waktu, tenaga, pikiran dan juga hati. Oleh karena itu dalam proses taaruf, sedari awal kita harus melibatkan pertolongan Allah. Karena tanpa pertolongan dari-Nya, sangat mustahil kita bisa menemukan partner hidup yang benar-benar tepat untuk kita. Sangat mustahil, karena perjalanannya sangat panjang dan melelahkan.

Tumpuan pertama dari serangkaian proses taaruf ini adalah istikhoroh.  Karena data yang telah kita dapatkan bisa saja salah, tapi Allah TIDAK AKAN PERNAH salah dalam menilai seseorang.

Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, kehidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku.

Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, kehidupan, dan akhir urusanku (atau baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, dan palingkanlah aku darinya, dan takdirkanlah yang terbaik untukku apapun keadaannya dan jadikanlah aku ridha dengannya” (HR. Ahmad, Al-Bukhari, Ibn Hibban, Al-Baihaqi dan yang lainnya).

Maka dari doa ini dapat kita simpulkan, apabila seseorang itu memang-lah jodoh kita, meski banyak hambatan yang terlihat, pasti Allah akan permudah jalannya.Pasti akan bersatu dengan izin Allah. Sebaliknya, meski hati merasa sudah mantap, namun seseorang itu ternyata bukan jodoh kita, maka akan selalu ada hambatannya. Tidak akan bisa bersatu dengan izin Allah.

Jika kita telah melakukan semua SOP di atas, maka biarlah taqdir Allah yang berbicara. Atas Ilmu-Nya yang mengetahui segala hal yang nyata dan yang ghaib, biarkanlah Allah yang memilihkan kita seseorang yang terbaik untuk urusan kita dunia akhirat. Jangan pernah ragu dengan keputusan Allah.

NO BAPER ketika kita menjalani proses taaruf. Seriously, jangan bawa-bawa perasaan. Baper hanya dibolehkan/berlaku bagi kedua belah pihak jika akad nikah telah tertunaikan. Kita harus se-profesional mungkin dalam memilih partner hidup. Anggap saja kita sedang mencari partner kerja, hanya saja ini orientasinya keluarga, membangun peradaban. Jadi sikap professional sangat dibutuhkan. Kalau misal ada ketidak-cocokan, ya sudah qadarullah prosesnya tidak bisa dilanjutkan. Berarti seseorang itu bukanlah jodoh kita. Tidak ada kosa kata ditolak atau menolak dalam kamus pribadi saya. Yang ada hanyalah qadarullah ada sesuatu ketidak-cocokan antara kedua belah pihak atau adanya ketidak-cocokan dari masing-masing pihak keluarga, sehingga proses tersebut tidak dapat dilanjutkan.

Kadar kemantapan kita dalam memutuskan apakah lanjut atau tidak dalam melakukan proses ini bergantung dengan kadar ketakwaan dan ketergantungan kita terhadap ketentuan Allah. Kita hanya boleh menggantungkan hati kita pada Allah. Kita harus berusaha lebih keras lagi untuk memperbaiki hubungan kita dengan Allah. Raihlah cinta Allah. Karena apabila cinta Allah yang kita dapatkan, maka mudah bagi Allah untuk menggerakkan satu hati dari sekian banyak hati hamba-Nya untuk mencintai kita. Hati setiap anak Adam itu ada di genggaman jari jemari Allah. Sangat mudah bagi Allah membolak-balikkanya. Jika cinta Allah yang kita dapatkan, maka mudah bagi Allah menggerakkan hati kaum muslimin untuk mencintai kita. Jika cinta Allah yang kita dapatkan, maka Allah-lah yang akan mencukupi segala kebutuhan kita termasuk urusan cinta kepada makhluk.

Ketika iman yang bekerja pada bagian ini, maka rasanya semua ketetapan Allah itu tetap akan selalu baik di mata kita. Menjalani semuanya pun akan terasa mudah. in syaa Allah. Sekian dulu pembahasan kali ini. In syaa Allah akan dilanjutkan pada pembahasan berikutnya.

wallaahu a’lam

Bandung, 24 April 2016
Ummu Kiram

Tugas Peradaban Part #4(1) – Mengarungi Kesesuaian Jiwa

3b193931082529efa8fb8cdd2f388dc7
Source: Pinterest

Setelah melalui salah satu dari ketiga mediator yang telah dijelaskan sebelumnya, maka ada beberapa hal selanjutnya yang bisa dilakukan. Disini ada 8 poin pembahasan hal-hal yang harus dilakukan dalam taaruf. Agar memudahkan membaca, maka saya bagi menjadi dua bagian.

  1. Jujur pada diri sendiri

Maksudnya adalah muhasabah/evaluasi diri sendiri, seperti apakah kita sebenarnya. Sudah sholih/ah atau belum?  Sudah bertakwa atau belum? Sudah bijak atau belum?

Pantaskah kita jika mendambakan seorang pasangan hidup seperti Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wasallam (a.k.a mendambakan seorang yang mendekati sempurna seperti Rasul) sementara kita belum sebaik dan se-shalihah Aisyah radiyallaahu ‘anha. Sejatinya jodoh adalah cerminan dari diri kita sendiri. Ketika ingin mendapatkan partner yang shalih, maka shalihah-kan diri sendiri terlebih dahulu. Ini adalah hal yang sangat penting sebagaimana Allah menjelaskan dalam Surah An-Nur ayat 26,

“Wanita-wanita yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji pula. Wanita yang baik-baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik pula….” (QS. an-Nur: 26)

Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu dan diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 3336 secara mu’allaq dari ‘Aisyah radhiyallâhu ‘anha.

“Ruh-ruh itu seperti tentara yang berhimpun yang saling berhadapan. Apabila mereka saling mengenal (sifatnya, kecenderungannya dan sama-sama sifatnya) maka akan saling bersatu, dan apabila saling berbeda maka akan tercerai-berai.”

Kesesuaian di alam  ruh akan mengakibatkan adanya keserasian serta kesamaan. Jika ruh selalu dipenuhi dengan maksiat, maka ia akan cenderung cocok dengan sesamanya. Pun, jika ruh atau jiwa selalu disibukkan dengan ketaatan, maka ia akan serasi dengan sesamanya.

Jika kita hanya menampilkan  tampilan shalih, sementara hati kita usang jauh dari ketaatan, ibadah kita hancur,  maka jangan kaget jika suatu ketika kita dapati juga hal yang demikian pada pasangan hidup kita.  Terkadang kita muluk dalam kriteria, namun kondisi diri jauh dari pengharapan. Maka mari sejenak bersama bercermin, sebenarnya telah sejauh mana ke-shalihan kita? Telah sejauh apa kelurusan aqidah dan akhlak kita? Telah sebaik apa kualitas ibadah kita kepada Allah? Jujur-lah pada diri sendiri, karena ini adalah salah satu dari sederetan resep bagaimana cara kita bisa menemukan partner hidup yang sejati.

  1. Jujur dalam menetapkan kriteria

Jujur-lah dan bersikap proporsional dalam menetapkan kriteria. Yaitu dengan melihat kesesuaian dengan diri kita dan kita merasa “klik” dengannya dalam 2 faktor, yaitu keshalihannya dan karakternya, termasuk urusan fisik. Jujur-lah pada mediator kriteria seperti apa yang ingin Anda cari. Jangan karena urusan malu, yang penting shalih dan taat. Ternyata ketika dijodohkan dengan yang hanya memenuhi kriteria tersebut, ternyatakita merasa tidak cocok. Sekali lagi, menentukan kriteria harus yang spesifik agar memudahkan mediator dalam mencarikan calon partner. Jika ingin kecantikan/ketampanan calon skala 8 (misalnya), ya bilang saja segitu. Orang yang seperti apa yang kita inginkan, visi-misi harus seperti apa, fisiknya seperti apa, posturnya yang segimana, latar belakang pendidikannya yang seperti apa, karakternya seperti apa, ingin yang pendiam atau yang cerewet, ingin yang ekstrovert atau yang introvert, dsb. Jadi harus benar-benar spesifik. Ingat yaa, ketika mensyaratkan kriteria yang seperti itu maka harus  proporsional dengan kapasitas yang kita miliki pada diri kita. Mensyaratkan standart kriteria yang terlalu tinggi, sementara kapasitas kita tidak dapat melampauinya, maka akan banyak kesulitan nantinya yang akan dihadapi. Ya, yang paling  tau keadaan sebenarnya diri kita seperti apa adalah diri kita sendiri. Jadi jujur saja.

Ada pesan penting dalam hal menentukan kriteria ini, yaitu carilah calon partner dengan kriteria nanti yang kita butuhkan terutama dalam hal membina rumah tangga. Ingat, yang KITA BUTUHKAN. Dalam  hal membina rumah tangga nantinya pasti keadaan akan memaksa kita memiliki lebih banyak pekerjaan, lebih banyak memiliki target hidup (dalam mencapai visi misi bersama) dan serentetan PR dan tugas peradaban yang lainnya. Akan sangat dan lebih banyak  pekerjaannya jika dibandingkan kita dalam keadaan masih single. Jadi ketika menentukan kriteria (terutama dalam hal karakter) carilah yang benar-benar sesuai apa yang kita butuhkan nanti dalam hal mencapai visi dan misi bersama.

Misal saya orang ‘perceiver’ tulen dan orang yang konseptual. Saya handal dalam hal membuat/menentukan rencana dan target jangka pendek atau panjang, apa yang ingin dicapai bersama dalam 1 tahun ke depan  misalnya. Saya akan membuat perincian target apa yang harus dicapai per-bulannya, saya bisa menuliskannya secara rinci. Akan tetapi balik lagi karena saya orang ‘perceiver’, terkadang melakukan pekerjaan tidak bisa terstruktur dan terencana, meski saya sudah buat schedule apa yang harus saya lakukan per harinya. Jadi disini saya sangat membutuhkan seorang partner yang berkarakter ‘judger’ agar perencanaan yang dibuat bersama dapat dilaksanakan dengan baik. Orang judger adalah orang yang terstruktur dan sangat taat dengan peraturan yang dibuatnya sendiri. Saya membutuhkan partner yang berkarakter judger untuk bisa memonitoring dan mengevaluasi pekerjaan dan pencapaian target bersama. Saya membutuhkan partner hidup yang demikian agar target dan visi misi hidup bersama benar-benar dapat dicapai. Jadi ketika menentukan kriteria partner hidup, maka saya mensyaratkan orang yang memiliki karakter ‘judger’ sebagai calon partner hidup saya nanti. Ini hanya contoh permisalan. Dan masih banyak aspek yang bisa kita kaji sendiri, harus seperti apakah kriteria calon partner hidup yang akan kita butuhkan nanti dalam membina rumah tangga. Just FYI saja, kenapa pada akhirnya saya berpikir tentang bagusnya hasil yang akan dicapai dari kolaborasi antara karakter Perceiver dan Judger.

This slideshow requires JavaScript.

Poin nomor 1 dan 2 secara fisik dapat terangkum dalam CV yang kita buat sebelum melakukan proses taaruf. Seyogyanya CV taaruf dibuat sedetail dan sejujur mungkin. Hal ini untuk mengantisipasi apabila ada ke-tidak cocokan, maka sedari awal kita bisa mencegahnya. Saya pernah baca postingan mengenai #taaruf yang optimal, disana dijelaskan  bahwa dalam membuat CV taaruf harus dijabarkan sedemikian detail mengenai kondisi fisik diri, sifat kekurangan dan kelebihan, latar belakang keluarga, visi misi berkeluarga, tipe seseorang yang diharapkan, bahkan sampai perencanaan keluarga. Dan semua ini harus diisi sejujur-jujurnya. Beberapa waktu lalu ada teman yang mengirim saya format CV taaruf yang cukup detail. Saya coba cantumkan di bawah, sudah tertera sumbernya. Barangkali bisa bermanfaat buat teman-teman.

This slideshow requires JavaScript.

 

  1. Jangan asal-asalan memilih seseorang menjadi mediator

Dalam menentukan siapakah orang yang akan menjadi mediator kita dalam menemukan partner hidup yang tepat, maka kita harus pastikan bahwa orang yang menjadi mediator itu adalah orang yang amanat dan mengerti urusan fiqih mediator (wasilah).  Karena salah satu kesalahan dalam dunia dakwah yang terjadi saat ini adalah kebanyakan mediator tidak amanat dan tidak mengerti urusan fiqih mediator, yang penting main jodohin dan dicocok-cocokin. Si A single, si B single terus langsung dicomblangkan. Ini adalah kesalahan fatal yang sering terjadi di era ini.

Lihatlah contoh yang telah disebutkan dalam bahasan Tugas Peradaban Part #2 tentang kisah Fatimah binti Qais yang dilamar Abu Jahm dan Mu’awiyah radhiyallaahu ‘anhum dan datang bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Disini Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memiliki status sebagai mediator untuk Fatimah radhiyaallaahu ‘anha. Tiga tokoh penting dalam riwayat ini merupakan shahabat dan shahabiyat tulen- yang terlepas dari masing-masing kekurangan mereka- yang tak perlu kita ragukan kualitas keimanan dan kualitas ibadah mereka. Akan tetapi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam malah merekomendasikan Usamah radhiyallaahu ‘anhu sebagai calon untuk Fatimah radhiyallaahu ‘anha. Mengapa demikian? Karena Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paham karakter dari masing-masing sahabat dan paham dalam urusan fiqih mediator. Bahwa justeru Usamah-lah radhiyallaahu ‘anhu orang yang paling pas dan cocok karakternya dan keadaan yang lebih siap menikah dengan Fatimah  radhiyallaahu ‘anha. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam paham bahwa tidak semua orang shalih yang apabila mereka dipertemukan bisa ‘nyambung’ saat bicara. Tidak semua orang shalih yang apabila mereka dipertemukan maka bisa menjadi partner yang pas dalam berbagai aspek. Maka titik poinnya disini adalah mediator harus mengerti dan paham mengenai aspek kecocokan dan keserasian.

Semua yang kita lakukan nantinya akan dimintai pertanggung-jawaban (di hadapan Allah), termasuk dalam  hal menjadi mediator. Ketika merasa berhasil mempersatukan dua insan, namun tidak berselang lama terjadi perceraian karena ternyata kedua belah pihak tidak memiliki kecocokan dalam hal karakter, karena ternyata pada saat proses perkenalan mediator tidak menjelaskan rinci kelemahan dan ada aib yang tertutupi dari masing-masing pihak (karena kelalaian mediator), maka sebagai mediator nanti akan diminta pertanggung-jawabannya pada saat hari kiamat. Maka berhati-hati lah jika kita ingin menjadi mediator. Kita harus memahamkan diri terlebih dahulu tentang bagaimana ilmu menjadi seorang mediator, dan bagaiamana karakter orang yang meminta kita menjadi mediatornya.

Pernah suatu ketika, tetiba ada ikhwan yang inbox saya dan mempersilakan saya untuk menjadi mediator mencarikan akhwat untuknya dan beberapa temannya. Seketika saya terkaget-kaget,jangankan tahu karakternya,  namanya saja saya baru tahu. Ya Allah ini siapa tetiba inbox saya dan meminta saya untuk menjadi mediatornya? Ikhwan ini kira saya sudah menikah dan beliau meminta kontak (calon) suami saya. Lhah?? Tanpa panjang lebar saya langsung jelaskan kalau saya tidak memiliki kapasitas untuk menjadi seorang mediator dan memberinya kontak seorang ustadz yang sudah mumpuni dalam hal menjadi mediator beserta istri. Jujur, biasanya kalau ada kasus ikhwan akhwat medsos seperti ini saya lebih sering menjustifikasinya sebagai akun abal-abal. Mengingat banyaknya kasus penipuan yang terjadi akhir-akhir ini, jadi sifat kehati-hatian dan kewaspadaan mengenai hubungan via sosmed ini harus diprioritaskan. Dan selang setelah beberapa waktu,  di-cross-check ternyata hal ini benar adanya, bahwa ikhwan tadi serius mengenai keinginannya, cuma caranya salah – mungkin karena saking bingungnya mencari mediator kali yaa.

Ini kesalahan yang seringkali kita temui.  Banyak ikhwan dan akhwat di lapangan yang tetiba meminta langsung orang- yang bahkan belum mengenalnya- untuk menjadi mediatornya. Lhah memang menjadi mediator itu se-gampang mencari dan mencocok-kan sandal di pasaran?  Bahkan untuk mencari sandal yang cocok dan pas dengan selera kita saja, ini susah sekali. Sudah datangi mall A, B atau C ternyata seleranya gak ada yang cocok.

Pun saat kita meminta seseorang menjadi mediator untuk kita, kita harus memastikan bahwa orang tersebut telah paham fiqih mediator, bertanggung-jawab dan memiliki rasa takut kepada Allah.

 

  1. Mediator harus satu selera dengan kita

Hal yang penting juga adalah bagiamana menyatukan selera dengan mediator. Kalau dalam pandangan kita, seseorang dikatakan shalih jika telah memenuhi syarat A, B , C dst, maka pastikan mediator juga memiliki pandangan yang demikian. Jangan sampai terjadi perbedaan pandangan (dalam hal seseorang telah memenuhi kriteria) antara kita dengan mediator. Terutama untuk aspek yang relatif seperti kecantikan/ketampanan. Kesantunan, dll. Seseorang dikatakan ‘baik’ apabila memenuhi kriteria seperti apa. Jangan sampai mediator bilang si A itu baik, tapi menurut kita ternyata belum baik. Pastikan antara kita dan mediator itu satu selera. Mediator adalah orang yang paham tentang selera kita. Mediator adalah orang yang se-frekuensi, se-suhu, dan se-paham pandangan dengan kita.

 

Lanjut di bagian 2

 

wallaahu a’lam

 

Bandung, 24 April 2016
Ummu Kiram

Tugas Peradaban Part #3 – Jalan Mencari

b40b6084b98df7985b2571dd599b447e
Source: Pinterest

Jalan  mencari seorang partner hidup dalam bingkai ta’aruf secara umum ada 3 cara, yaitu:

  1. Melalui teman atau kolega

Ketika Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam akan menikah dengan Khadijah radhiyallaahu ‘anha, yang menjadi mediator adalah sahabat dari Khadijah, yaitu Nafisah binti Muniyyah. Saat Khadijah telah menyampaikan niatannya kepada Nafisah, maka Nafisah pun segera pergi kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam untuk menyampaiakan  niatan tersebut dengan apik dan elegan, dengan tanpa menjatuhkan muru’ah Khadijah radhiyallaahu ‘anha sebagai seorang wanita yang mendahului menyampaikan niat ingin menikah. Disini, peranan teman atau kolega bisa menjadi mediator untuk kita dalam mencari partner hidup, meski saat kita tidak atau belum mempunyai referensi siapakah seseorang yang sekiranya cocok dengan kita dan akan kita tuju.

Contoh lain yang bisa kita teladani dari poin ini adalah kisah para sahabat, terutama Khulafa’ur Rasyidin. Abu Bakar dan Umar radhiyallaahu ‘anhuma merupakan mertua Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Sementara Utsman dan Ali radhiyallaahu ‘anhuma merupakan menantu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Hal ini menunjukkan bahwa, untuk mencari partner hidup, terkadang orang yang dekat (sahabat, teman satu majelis dll) justeru adalah orang yang tepat karena sebagian kita telah mengetahui keshalihan-nya dan sering bermuamalah dengannya. Ini adalah suatu konsep Nubuwah tentang bagaimana mencari partner hidup melalui kolega terdekat.

  1. Melalui orang tua atau wali

Sebagaimana Umar bin Khattab radhiyallaahu ‘anhu menawarkan putrinya, Hafsah radhiyallaahu ‘anha kepada Abu Bakar dan Utsman radhiyallaahu ‘anhuma namun keduanya sama-sama tidak menunjukkan respon. Kemudian Hafsah radhiyallaahu ‘anha dilamar oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Hal ini menunjukkan bahwa salah satu Sunnah para shahabat, para orang tua mengajukan putrinya ke orang yang dilihat sebagai orang yang shalih. Maka ketika orang tua (seorang ayah) melihat ada seorang lelaki yang dia tahu bahwa laki-laki itu shalih dan baik akhlaknya, maka tidak ada salahnya apabila ia menawarkan putrinya kepada lelaki tersebut dengan cara yang bijak, santun dan tidak murahan.

  1. Mengajukan diri sendiri (purpose someone directly by yourself)

Sebagaimana laki-laki dapat menawarkan dirinya secara langsung kepada seorang wanita, maka begitu pula wanita juga diperbolehkan menawarkan dirinya secara langsung kepada seorang laki-laki. Sebagaimana apa yang Allah firmankan dalam surah Al-Ahzab ayat 50 yang menjelaskan tentang Maimunah binti al-Harist radhiallahu ‘anha menawarkan dirinya langsung kepada Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

“Dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin.” (QS:Al-Ahzab : 50).

Ada seorang wanita yang mempersembahkan dirinya kepada Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Ini bukanlah suatu aib atau perbuatan tercela, dan hal ini diperbolehkan. Akan tetapi harus dengan cara yang santun, bijak dan terhormat. Jangan menggunakan bahasa yang murahan yang dapat menurunkan muru’ah dan derajat seorang wanita dihadapan laki-laki.

Jika memang seorang laki-laki itu shalih, baik dan bijak, kalaupun dia tidak memiliki kecenderungan hati terhadap wanita yang mem-purposenya secara langsung, maka dia tidak akan melecehkan wanita tersebut bahkan dia akan tetap menjaga kehormatan wanita itu. Dan jika laki-laki itu meremehkan seorang wanita yang menawarkan diri kepadanya, maka dari sini banyak hal yang bisa kita nilai tentang akhlak laki-laki tersebut yang tidak bisa menghargai dan menghormati seorang wanita. Maka wahai wanita yang mangalami kejadian seperti ini, bersyukurlah pada Allah subhanahu wa ta’ala karena Allah telah menunjukkan kepada engkau bahwa lelaki – yang engkau ingin bersamanya-  memang bukan laki-laki baik yang dapat dijadikan sebagai seorang imam dan Allah telah menyelamatkanmu dari laki-laki seperti itu melalui penolakan itu.

Itulah jalan atau cara yang bisa kita pakai/lakukan untuk bisa menemukan seorang partner hidup. Pembahasan selanjutnya akan berkaitan dengan apakah yang akan kita lakukan setelahnya. In syaa Allah bersambung dalam bahasan Tugas Peradaban Part #4.

 

Wallaahu a’lam

 

Bandung, 24 April 2016
Ummu Kiram

Memaknai Rindu

d862508075418349ec4376fd90ad26be
Source: Pinterest

Mengenang sesuatu di masa lalu dan memberi hati serpihan rasa damai: Rindu

Dan…

Mendamba masa depan dengan husnudzon penuh pengharapan: Rindu

Keduanya memberi rasa niscaya dalam hati. Masa yang begitu pasti seolah keduanya telah terjadi, lantas menjadi kepingan cerita dalam perjalanan hidup.

Aku rindu, tentang masa lalu dan masa depanku.
Adalah dua hal dalam satu dimensi…
Ya, sebenarnya masa lalu dan masa depan kita tercipta di satu dimensi, di satu tempat: SURGA

Bukankah Surga memang tempat masa lalu kita?
Dan tempat pengharapan untuk masa depan kita?

Itulah mengapa, setiap kali Allah berbicara tentang akhirat dalam kalam-Nya, Dia selalu memakai bentuk lampau.
karena dari sana lah tempat manusia pertama berasal.
Kelak, semoga juga begitu.
Tempat yang selalu Allah gambarkan berulang-ulang dalam firman-Nya dengan dua cara:

Tempat yang “tidak ada kekhawatiran terhadap mereka” dan “tidak pula mereka bersedih hati”

wallaahu a’lam

Di bawah temaram cahaya malam
_Hati yang Terpaut Rindu_

M E N U N G G U

79d8136223e786ee9f83bf7a13681d9a
Source: Pinterest

Jika saat menunggu waktu atau seseorang
pikiran kita selalu terbayang bagaimana caranya agar waktu bisa berjalan lebih cepat
agar cepat-cepat pula kita menemui seseorang yang ditunggu

tapi aku heran dengan mereka yang menunggui hujan.
menghujat, mencelanya
seperti seakan menyuruh hujan cepat-cepat berhenti saja, dan pergi meninggalkan mereka.

padahal seseorang yang ditunggu itu belum tentu diberkahi oleh penciptanya.
sementara hujan selalu datang membawa berkah.

itulah alasan, aku lebih suka duduk sendiri ditemani hujan
menyaksikan kisah langit dan bumi yang terpisahkan jarak nun jauh
namun sekalinya bertemu, menjadi interaksi romansa paling manis dalam wujud irama percik air dan harumnya petrichor
dan sungguh, aku tak ingin mereka lekas-lekas pergi.